“Nak, Ibu ingin kau kibarkan bendera untuk Ibu di hari kemerdekaan nanti ya!”
***
Tahun-tahun sebelumnya, ia selalu bangga saat aku memakai baju putih berlengan panjang, bersepatu hitam dan memakai peci dengan lambang garuda tepat di kiri depan. Berbaris rapi dan menawan, berdiri tegak membawa sang saka merah putih agar dapat berkibar di angkasa raya yang begitu luasnya.
Begitulah aku, seorang lelaki agak tinggi, lumayan tampan, berbadan layaknya binaragawan, juga idaman kaum hawa. Seperti halnya siswa lain, hari esokku kugunakan untuk menuntut ilmu. Berbekal rasa kantuk dan tas hitam usang bercorak merah robek bagian bawah kesayanganku dari dulu. Akan tetapi, rasa kantuk itu perlahan sirna karena langkahku sebelumnya telah dibekali cinta yang terungkap dalam pelukan manja dan ciuman hangat seorang malaikat. Rasanya agak aneh, seperti nikmatnya cokelat susu manis dan biskuit renyah menggoda, tetapi ssungguh mendamaikan hati. Saat aku mulai menyerah akan dunia, mulai tak kuat menahan diri, malaikat itu menjadi semangatku, malaikat itu motivasiku, dan tujuanku untuk hidup yang tak lain membuatnya tetap tersenyum dan bahagia.
Malaikat itu terlahir dalam wujud perempuan tua berkerudung putih yang lembut hatinya. Reinkarnasi perwujudan dari rasa sayang dan cinta. Perwujudan asli alunan melodi yang menenteramkan sukma. Wajahnya bercahaya bagaikan bintang di langit malam, indah bagaikan mawar merah harum semerbak. Lembut tutur katanya seolah hawa sejuk embun pagi. Sikapnya yang halus membuatku nyaman hingga lupa diri. Hanya rasa syukur yang ada di benakku karena telah terlahir dari rahim seseorang yang benar-benar anggun. Mungkinkah ia mahakarya sempurna ciptaan Tuhan? Aku pun tidak mengetahuinya, yang aku tahu malaikat itu terlahir untuk bahagia.
Langkah demi langkah menuntunku masuk mulut sekolah. Di pagi yang masih samar-samar dan kelabu, aku menyapa guru dan melirik anak kelas satu. Menaiki tangga, melewati ruang-ruang berpintu, menuju kelas imajinasiku. Terlihat seekor kucing masih asik dengan mimpinya, lucunya gumamku. Perlahan, tubuh ini sampai tujuan. Ya, masih sunyi dan belum banyak yang datang. Hanya ada satu perempuan rajin dan dua laki-laki yang dapat giliran menyapu halaman. Semua ini hanyalah sebagian kecil tentang pagiku yang sampai kini masih terasa abu. Belajar dan berjuang adalah aku. Tidak semua nyanyian guru sampai ke otakku, ada yang mampir sejenak lalu berlalu, ada juga yang sama sekali tak mau bersalam rindu. Suasana ini berjalan begitu saja didampingi gelak tawa berbagai siswa yang senang bercanda. Ada juga putri tidur yang tak ingin diganggu hidupnya, entah semalam dia berbuat apa.
Dulu, kecilku, aku pernah diajak ayah dan ibu melihat upacara kemerdekaan di lapangan Balai Kota. Ramai, penuh dengan orang-orang menyambut perayaan kemenangan. Sejak saat itu, aku dibuat kagum oleh laki-laki gagah yang suaranya lantang sampai terdengar seluruh orang. Ia tampak tangguh, dengan wajah penuh kepercayaan dia memimpin seluruh barisan. Ada juga yang memakai sarung tangan putih dan membawa bendera merah putih kesayangan. Melangkah tegas dan penuh kehati-hatian. Saat itu, bendera merah putih dikibarkan, lalu dinyanyikanlah lagu Indonesia Raya.
Dan pada saat itu juga, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ulu hatiku serupa ditusuk bertubi-tubi mendengar nyanyian merdu yang semakin sayu. Kupandangi merah putih yang perlahan menuju puncak tiang tertinggi. Angin membuatnya berkelebat, membaur dalam semesta dengan mantap. Sedang pandanganku mulai nanar. Air bening merembas menerobos kelopak mata. Sementara ingatanku menuju pada cerita-cerita guru. Mereka, para pejuang bangsa rela meregang nyawa demi kibaran bendera.
***
“Mau jadi apa kamu? Baris-berbaris tidak jelas seperti itu.”
“Buang! Buang jauh-jauh mimpimu jadi pengibar bendera! Lebih baik ambil buku! Prioristakan pendidikanmu! Buat ekonomi keluarga ini agak mendingan, Ayah sudah kerja keras malah hidupmu cuma main-main saja. Sampai matipun Ayah tidak setuju kamu jadi pengibar bendera!”
Senja mengubah warnanya menjadi jingga, lalu ia pamit ingin pergi sebentar, bertukar tempat dengan bulan yang telah menunggu dari tadi siang. Di hujan dan malam gelap aku terpaku dengan keadaan. Keadaan sebagai pelajar dan anak tunggal. Ayah melarangku menjadi paskibra apapun alasannya, memandang diriku sebelah mata. Berbeda dengan ibu, dia mendukungku sepenuh hatinya.
Dua tahun yang lalu ayah jatuh sakit dan pulang lebih dulu, meninggalkan aku, ibu dan kenangan istimewa lainnya. Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata, ketika kami berdua, menerima hakikat kehidupan. Di hening dan terang bulan, muncul kerinduan. Tiga kursi tersedia di malam itu, tetapi satu diantarannya merasakan kesepian. Dulu, kami bertiga sering sekali makan bersama, berbincang tentang dunia dan segala isinya, berbagi rasa, saling mengisi layaknya keluarga bahagia.
Jujur, kedua rasaku melebur, setengah hatiku kehilangan mentari, menjadi gelap seperti awan hitam yang setia menunggu hujan. Kehilangan ayah merupakan kejutan dari Tuhan, aku tak bisa berkata apa-apa. Mencoba terbiasa tapi hati kecilku tak ingin menerimanya. Sekali lagi, diriku mati rasa. Namun, setelah itu aku jadi menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang agak janggal. Ayah meninggal, apakah artinya aku merdeka dan bebas dari segala larangan? Tapi bagaimana pun separuh kenanganku ada bersama Ayah. Kehidupanku selama ini melekat dengannya.
Akan tetapi, setelah rintik hujan pelangi pasti datang, membawa warna yang beragam, menandakan cerita hidup harus terus dilanjutkan. Perasaan lega dan bahagia terukir di wajahku sekarang, melihat ibu masih ada di sampingku pada detik kesekian. Namun, aku tahu jauh di dalam hati kecil ibu ia rindu ayah di sisinya, untuk itu aku ada dan membuatnya merasakan arti kedamaian. Berharap, ibu sempat melihatku nanti menjadi manusia yang sesungguhnya.
***
Pagi ini langit agak mendung, terlihat sedih, mungkin ia akan menangis deras, pikirku. Perasaanku dari awal juga tidak enak, mengapa ya? Apakah bajuku salah jadwal? Dasiku tertinggal? Atau tugas guru yang belum kukerjakan? Tidak, bukan itu. Semua sudah sempurna, hanya saja perasaanku sedang tidak bisa diajak kerja sama.
Tiga jam pelajaran telah berlalu, matematika dapat giliran pertama hari ini. Dering bel pertanda jeda telah dinanti siswa. Udara dingin menusuk, ditambah cueknya sifat guru kami membuatku semakin menggigil membeku. Jarum jam menunjuk angka dua, hari ini ulangan fisika, yang benar saja ini tidak biasa. Fokusku hilang ditelan angan. Pena di tangan tak mau lagi melukis huruf dan angka penentu nilai ujian, kertas ulangan masih saja setengah bimbang, bukannya aku bodoh aku hanya tidak tenang. Sepuluh menit lebih aku mulai cemas, otakku buyar, wajahku pucat, pandanganku kabur, rasanya tidur adalah hal paling manjur. Masa bodoh waktu ulangan hampir menipis, dengan kertas di tangan masih bersih suci. Aku dan perasaan waswasku meminta teman untuk mengumpulkanya dan tak peduli dengan hasilnya nanti. Aku tidak sakit, aku hanya kurang beruntung hari ini.
Bel pulang terdengar. Tapi aku tidak pulang. Meski agak enggan, aku menunaikan kewajibanku untuk berlatih sebagai pengibar bendera di upacara hari kemerdekaan esok hari. Tubuhku masih berdiri tegak. Kakiku melangkah dan berpijak dengan mantap. Namun, lagi-lagi aku tidak bisa mengendalikan kegelisahanku. Seperti ada banyak hal yang harus kupikirkan, seolah mengobrak-abrik ketenangan. Sebentar aku memejamkan mata, kembali menata rasa.
Setelah semua usai, aku bergegas pulang. Aneh saja langit tiba-tiba kembali memberi kehangatan, udara dingin segera berganti sejuk. Mungkin memang benar, akhir-akhir ini alam senang berganti perasaan. Tak begitu kaget jika diriku kembali pulih begitu cepat. Semangat membara datang entah dari mana, belum ada dua puluh empat jam aku meninggalkan rumah, tapi rasa rindu ingin pulang seakan tak terbantah. Bergegas dengan napas terengah, aku bersaing dengan waktu. Melewati rumah-rumah dan sesekali terjebak di gang buntu. Akhirnya, rasaku pun tertuju.
Akan tetapi, ada yang menggangu di benak kecilku.
Orang-orang ini, terlalu banyak.
Apalagi, mereka semua berpakaian serba hitam.
Sebagian orang berlarian tak keruan, rintik-rintik air keluar dari bola mata orang-orang. Dedaunan berjatuhan karena mendengar tangis pilu yang tak mampu lagi ditahan. Doa-doa dipanjatkan menemaninya menuju surga yang kekal. Sedangkan aku, terjebak di dalam dunia sempit yang tak habis derita. Terdiam, mau lari tapi tak kuasa. Di atas ambang, sukma ragaku melayang tak tenang, merelakan dia yang harus dipanggil Tuhan. Merahnya mawar menemani aku yang perlahan merasakan kesendirian.
Hari ini, tepat tanggal 17 Agustus, sebagaimana permintaan ibu, aku bersiap mengibarkan bendera. Aku berdiri di atas tanah liat yang hidup berdampingan dengan batu nisan, menancapkan tongkat bambu, menatap langit biru yang penuh kesedihan, sesekali angin menggerak-gerakkan kain merah putih yang aku kibarkan. Tepat di atas makam ayah bunda.
“Ibu, ini kukibarkan bendera untukmu. Kukira sekarang Ibu telah merdeka, sebab Ibu akan leluasa menemui Tuhan di sana.”