Jumat, 03 Januari 2020

are we meant to be?

;;pukul dua lebih sembilan belas

Aku masih terjaga di waktu tidurku. Terpikirkan kamu yang pernah hadir disela sela nyawa yang masih melekat.

Melamun, menatap, dan teringat,
semua hal yang pernah kita lakukan, meski definisi kata "kita" cuma sementara. Kuberi tau, aku masih berdiri di titik yang sama, pernah sangat hancur pada masanya. Entah kenapa, malam ini begitu lalai, mengajakku bicara, dan menulis tentang rasa.

Mungkin, sajadah jadi saksi jika ia kau tanya siapa yang sering aku sebut dalam tiap doa, namamu.
Beribu kata baik dan harapan menembus langit yang aku sampaikan kepada Tuhan. Pernah, sesekali hujan air mata berontak ingin keluar, kenapa jadi seperti ini kita sekarang?

Tanya saja bulan dan bintang yang ada, pasti jawaban mereka rasa ini masih sama. Ya, tak ada yang berubah seperti saat pandangan pertama begitu indah dan mengena ngena. Apa hatimu juga rasakan hal yang sama?

Jujur aku masih ingin dekat, layaknya pondasi dan atap. Apa kamu tidak mau coba sekali lagi? menekan tombol reset hanya untuk kali ini. Aku janji tidak akan buatmu kecewa(lagi)

Semoga bahagia dalam dirimu tetap terang ya, seperti cah(a)ya (ul)t(i)m(a)

*Purbalingga, 2020

Minggu, 02 September 2018

Nostalgia


Aku bersyukur pernah hidup diantara orang orang seperti kalian, melakukan berbagai hal yang bahkan tak pernah terpikirkan. Tertawa pada hal sederhana, yang sebenarnya jadi tanda tanya mengapa. Bangku kursi jadi saksi kebahagiaan kita, bernaung dengan canda lewati setiap detik-detik fana. Pernah setuju dan merasa satu saat kita lewati hal hal semu, kita pernah makan diatas meja yang sama bukan? Meskipun tak semua yang bisa datang. Apa kamu masih ingat saat kita berdebat tentang tumbuhan dan ramu-ramu hanya untuk membuat jamu? Apa kamu masih ingat saat kita bersandiwara 10 tahun lagi hidup berdua diatas mas kawin yang dibayar tunai beserta hidangannya? Kita juga pernah berdiri diatas panggung yang sama lo, berpakaian penuh warna bagai Rama dan Sinta. Kita juga hampir menghujani dunia dengan rintik air mata, cuma gara-gara belum juara.

Ya hidup kita memang penuh drama~

Rabu, 04 Juli 2018

Kita Hanya Sebentar

Hidup adalah sebuah pilihan.
Menjadi diri sendiri tidaklah mudah bagi sebagian orang.
Terkadang apa yang kita pikirkan tak bisa sejalan dengan pikiran mereka.
Terkadang pula apa yang kita lakukan dianggap salah karena beberapa alasan.
Tapi, apakah dengan berubah kan dapat jawaban?
Hati ini tak ingin jadi orang lain.
Diri ini hanya ingin seperti ini, apa adanya.
Apa adanya dalam segala hal, tak terkecuali saat aku bersamamu.
Walaupun terkadang aku tak bisa mengendalikan diriku.
Tapi aku tau,
Apa yang aku lakukan saat ini adalah wujud lain dari perasaanku.
Tidak mengapa jika hal sederhana ini buatmu semakin jauh.
Hanya satu yang aku minta.
Jangan pernah simpan amarahmu atas apa yang aku lakukan,
karena aku melakuknya atas sebuah alasan ;

Kita adalah dua insan yang tak mungkin bisa bersama.
ya, untuk sekarang.

-Terjepit 2K18

are we meant to be?

;;pukul dua lebih sembilan belas Aku masih terjaga di waktu tidurku. Terpikirkan kamu yang pernah hadir disela sela nyawa yang masih meleka...