Jumat, 03 Januari 2020

are we meant to be?

;;pukul dua lebih sembilan belas

Aku masih terjaga di waktu tidurku. Terpikirkan kamu yang pernah hadir disela sela nyawa yang masih melekat.

Melamun, menatap, dan teringat,
semua hal yang pernah kita lakukan, meski definisi kata "kita" cuma sementara. Kuberi tau, aku masih berdiri di titik yang sama, pernah sangat hancur pada masanya. Entah kenapa, malam ini begitu lalai, mengajakku bicara, dan menulis tentang rasa.

Mungkin, sajadah jadi saksi jika ia kau tanya siapa yang sering aku sebut dalam tiap doa, namamu.
Beribu kata baik dan harapan menembus langit yang aku sampaikan kepada Tuhan. Pernah, sesekali hujan air mata berontak ingin keluar, kenapa jadi seperti ini kita sekarang?

Tanya saja bulan dan bintang yang ada, pasti jawaban mereka rasa ini masih sama. Ya, tak ada yang berubah seperti saat pandangan pertama begitu indah dan mengena ngena. Apa hatimu juga rasakan hal yang sama?

Jujur aku masih ingin dekat, layaknya pondasi dan atap. Apa kamu tidak mau coba sekali lagi? menekan tombol reset hanya untuk kali ini. Aku janji tidak akan buatmu kecewa(lagi)

Semoga bahagia dalam dirimu tetap terang ya, seperti cah(a)ya (ul)t(i)m(a)

*Purbalingga, 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

are we meant to be?

;;pukul dua lebih sembilan belas Aku masih terjaga di waktu tidurku. Terpikirkan kamu yang pernah hadir disela sela nyawa yang masih meleka...